Tampilkan postingan dengan label Tokoh Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Politik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 September 2010

Politisi Bermasalah, Masalahnya Siapa?

PARDJIO (45), tukang parkir yang biasa mangkal di ruas Jalan Dr Cipto, dekat Pasar Induk Beras Dargo, Semarang, Jawa Tengah, tidak paham benar soal diumumkannya sejumlah nama politisi yang dianggap bermasalah. Pengumuman politisi bermasalah di Jateng oleh Koalisi Mahasiswa Semarang (KOMAS), Kamis (5/2), di depan Kantor Komisi Pemilihan Umum Jateng di Semarang mencantumkan sedikitnya 45 nama politisi-yang dianggap bermasalah-dari berbagai daerah di Jateng.

Secara keseluruhan, politisi yang dinilai bermasalah yang masuk dalam daftar itu sebanyak 58 orang, termasuk sejumlah calon presiden dan ketua umum partai politik. "Bermasalah itu bagaimana to, Pak? Yang bermasalah itu siapa? Partainya atau orangnya?" tanya Pardjio.

Bagi Pardjio, kalau Partai Golkar yang suka membagi kaus kuning bermasalah, apa bedanya dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang juga mulai membagi kaus merah untuk rakyat kecil, seperti dirinya, atau partai lain yang juga mulai membagi-bagikan kaus. "Buat saya, yang penting bagaimana setelah pemilu. Muncul pemenang, harga beras stabil saja sudah bagus," ujarnya singkat.

Lain lagi pandangan Safulkan (40), petani lugu asal Desa Rowosari, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jateng. Menurut dia, Pemilu 2004 sudah mirip pemilihan kepala desa. Warga bisa mencoblos partainya atau memilih nama calon anggota legislatif.

"Pada pemilihan kepala desa, calon yang kuat biasanya membagi-bagikan uang kompensasi bagi warga. Membagi uang dalam pilkades itu bukan suap, tetapi kompensasi masyarakat, sebab petani seperti saya ini harus meninggalkan pekerjaan untuk mencoblos di balai desa. Tidak kerja sehari bisa diganti uang Rp 15.000," ujarnya sambil menggeleng-geleng tidak mengerti saat disebut istilah money politics.

Beberapa loper koran di Kota Semarang, misalnya, menyatakan pernah mendapat uang fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) milik mereka sebesar Rp 5.000. Fotokopi KTP itu dipakai sebagai bukti dukungan seorang calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Malah, rekan mereka yang bisa menggalang banyak orang untuk menyerahkan fotokopi mendapat Rp 15.000.

Koordinator KOMAS Laila Sari mengemukakan, harusnya Pemilu 2004 ini merupakan momentum untuk menaruh harapan besar. Mereka berharap sukses pemilu berimbas pada perbaikan kehidupan masyarakat. "Tetapi, masyarakat harus membuat garis tegas atas kembalinya rezim Orde Baru ke ajang pentas politik di tingkat lokal maupun nasional. Kembalinya kroni Orde Baru itu ancaman terhadap kehidupan demokrasi dan kehidupan berbangsa. Inilah salah satu sasaran gerakan antipolitisi bermasalah," ujarnya. "Proses kampanye hingga pemilu perlu diwaspadai. Kalau ada politikus membagi uang, terima saja uangnya, tetapi tendang orangnya," teriak aktivis KOMAS.

Gerakan antipolitisi busuk, yang dibangun kalangan aktivis berbagai lembaga swadaya masyarakat di Semarang, dimulai dengan keberanian KOMAS melempar sejumlah nama politisi lokal maupun nasional yang dinilai bermasalah. Pencantuman nama itu memang bisa berbuntut adanya gugatan balik dari mereka yang namanya dicantumkan.

Akan tetapi, KOMAS tampak tidak banyak memedulikan risiko itu. Laila Sari bahkan menegaskan, kursi kekuasaan yang diperebutkan itu sebaiknya dikosongkan saja daripada direbut politisi bermasalah.

PENGAMAT politik dari Universitas Diponegoro, Semarang, Susilo Utomo mengatakan, gerakan antipolitikus busuk (bermasalah) yang gencar dilakukan menjelang Pemilu 2004 masih belum menemukan formatnya. Jaringan kerja yang dibangun aktivis antarkota juga belum sepenuhnya kuat. Persoalan ini akan semakin kabur kalau gerakan itu tidak bisa memisahkan antara tekanan tidak memilih partai politik yang busuk dan tidak memilih politisi yang bermasalah.

"Sasaran gerakan itu harus jelas. Kalau yang mau ditembak itu politisinya, gerakan itu tidak tepat. Parpol sekarang bertekad untuk mengarahkan pemilihnya atau masyarakat mencoblos tanda gambar parpol dengan mengabaikan nama politisinya," ujarnya.

Keputusan parpol mengarahkan pemilihnya pada memilih tanda gambar itu disebabkan dua faktor besar yang dihadapi partai peserta pemilu. Persoalan itu meliputi masih kuatnya perebutan nomor urut jadi dalam internal partai serta masyarakat masih belum siap memilih langsung nama politisi.

Susilo berpendapat, jumlah pemilih di pedesaan cukup besar, hampir 60 persen di setiap daerah. Untuk sistem Pemilu 2004 nanti, para pemilih tradisional umumnya masih mengacu pada proses pemilihan kepala desa.

Artinya, pemilih tradisional tidak terlalu peduli dengan adanya money politics yang dilakukan oleh seorang caleg. Bahkan, kalau ada caleg tidak memberi kompensasi kepada warga pemilih, biasanya caleg itu malah tidak didukung. "Ini kondisi nyata pemilih yang harus juga diperhitungkan," katanya.

Maka, ketika nama politisi bermasalah diumumkan dan ternyata hampir 60 persen adalah politisi lama, orang-orang seperti Pardjio malah bingung harus menanggapinya. Kalau harus memilih politisi baru, mereka juga tidak tahu kemampuannya. Gerakan antipolitisi bermasalah ini bagi Pardjio malah membuat masalah buatnya, mau pilih yang mana.... (WINARTO HERUSANSONO)

Sumber: Kompas.

Selasa, 05 Januari 2010

Gus Dur Dibunuh?

Adik kandung almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yakni KH Solahuddin Wahid, membenarkan bahwa dia menerima pesan pendek atau SMS dari seseorang yang tidak diketahui identitasnya. SMS itu berbunyi bahwa kematian kakaknya tersebut karena dibunuh.

“Saya menerima pesan pendek itu dua hari yang lalu, dan itu tidak saya kirim ke mana-mana. Ada dua media mengonfirmasi pada saya. Bunyinya (SMS), Gus Dur meninggal dibunuh,” kata Gus Solah, panggilan akrabnya, kepada wartawan di kediamannya, Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Minggu (3/1/2010).

Namun, sambung Gus Solah, dia tidak mau memercayai berita orang yang usil tersebut. “Saya tidak percaya dengan berita itu,” katanya. Sebaliknya, dia lebih memercayai keotentikan informasi kematian kakaknya ini pada versi kedokteran. Karena itu, menurut dia, agar berita ini tidak menjadi rumor, pihak dokter yang merawat Gus Dur secepatnya memberikan konfirmasi kepada publik lewat pemberitahuan ke media. “Lebih baik pihak kedokteran yang menjelaskan itu,” pintanya.

Selain itu, Gus Solah meminta pihak kepolisian mengusut orang yang menyebarkan SMS tersebut, apalagi terjadi dalam kondisi keluarga masih berduka dengan kehilangan Gus Dur. “Kepolisan harus mengusut siapa yang melakukan itu, dan mengusut apa maksudnya (melakukan hal tersebut),” desaknya.

SMS itu berbunyi, “gus dur DIBUNUH!30/12 Pk 18.050 WIB SElang oksigen gus dur dicabut paksa!pembunuhan terkait pertemuan gusdur tgl 4 desdi jl denpasar c3 membahas century dan adelin lies. TUNTUT POLISI USUT! (SEBARKAN).”

Kata Gus Solah, bukan saja dia yang menerima SMS tak bertanggung jawab tersebut. SMS juga diterima menantu Gus Dur, Dhohir Farisi, suami Yenny Wahid. “Farisi juga dikirimi. Saya pikir yang lain juga dikirimi (pesan yang sama),” ujarnya.

Menurut dia, pihak keluarga sengaja diam saja karena pengirim pesan pendek tersebut dianggap tidak bertanggung jawab dan sengaja ingin membuat situasi kacau. “SMS itu meresahkan, makanya saya dan keluarga diam, tidak membalas,” imbuh dia.

Namun, setelah dibiarkan ternyata pesan pendek terus menyebar ke masyarakat. Karena itu, dia meminta kepolisian mengusut tuntas penyebar pesan pendek gelap itu. Ditanya apakah nomor pengirim pesan yang diterimanya sama dengan nomor pengirim pesan yang diterima Farisi, Gus Solah tidak mengetahui. Hal ini karena dia belum menanyakan itu ke Farisi. “Karena saya pikir ya enggak benar,” pungkasnya.

Yenny Wahid juga meragukan kebenaran isi SMS tersebut. Menurut juru bicaranya, Imron Rosadi Hamid, Yenny meragukan kebenaran isi SMS itu dan keluarga percaya kematian Gus Dur merupakan sesuatu ketentuan dari Allah SWT. “Jadi, SMS gelap itu tidak bertanggung jawab, dan ini merupakan perbuatan orang-orang yang mencoba bermain di air keruh,” katanya.

Yenny dan pihak keluarga menganggap tidak ada hal yang tidak wajar dari kematian Gus Dur. “Jadi, ini sesuatu yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.


Sumber: Kompas.

Beredar SMS berisi tentang kematian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Isinya Gus Dur meninggal karena dibunuh. Tapi pihak keluarga memberi klarifikasi. Isi SMS tidak benar.

“Kami pihak keluarga tidak pernah menghiraukan SMS tersebut. Karena kami anggap SMS tersebut tidak benar,” kata putri Gus Dur, Yenny Wahid kepada wartawan saat didampingi suaminya di kediaman KH Sholahudin Wahid, kompleks Ponpes Tebuireng, Jombang, Senin (4/1).

Pihak keluarga, kata dia, Keluarga lebih mementingkan tamu yang berziarah. Karena besok malam akan digelar 7 hari wafatnya Gus Dur.

“Pihak keluarga lebih mementingkan tamu yang berziarah. Karena besok malam digelar 7 hari wafatnya bapak. Karena sejak pertama bapak wafat, semua tamu membludak,” tambahnya.

Pihak keluarganya pun tidak akan menggubris perihal SMS tersebut. Bahkan pihaknya tidak mencurigai siapapun. “Kami tidak mencurigai siapapun dan tidak menggubris SMS tersebut,” jelasnya.

Sebelumnya beredar SMS itu berbunyi : “Gus Dur DIBUNUH ! 30/12 Pk 18.50 WIB Selang oksigen Gus Dur dicabut paksa! Pembunuhan terkait pertemuan Gus Dur tanggal 4 Desember di Jalan Denpasar c3 membahas century dan Adelin Lies. TUNTUT POLISI USUT!

Pihak keluarga kembali bersuara soal isu meninggalnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kali ini, adik kandung sekaligus dokter pribadi Gus Dur, Umar Wahid, ikut membantah Gus Dur dibunuh di rumah sakit.

"Saya tidak menyimpan sms itu, sms itu diperlihatkan orang lain kepada saya. Salah satu isinya berbunyi Gus Dur dibunuh di RSCM. Itu tidak benar," ujar Umar kepada wartawan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (5/1/2010).

Umar menceritakan, Gus Dur sendiri yang menginginkan dirinya dapat dirawat di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, dan itu telah dilakukannya sejak awal tanun 90-an.

"Pada dasarnya sesuai keinginan Gus Dur ditangani di Cipto. Kami ingin mengatakan bahwa keluarga sepenuhnya berterima kasih pada Cipto dan seluruh tim dokter, perawat dan staf," katanya.

Pada kesempatan itu, Direktur RSCM Akmal Taher menegaskan bahwa kematian Gus Dur disebabkan oleh pembekuan darah di pembuluh darah besar dan gumpalan darah terdapat di beberapa di tempat lain yang mengganggu kerja jantung.

"Pada saat itu terjadi gangguan irama jantung hingga akhirnya jantung berhenti," kata dia pada wartawan.

Sumber: Detik.

Beberapa hari pasca wafatnya Gus Dur, beredar SMS yang menyebutkan kematian Gus Dur tak wajar. Tim Dokter diminta untuk menjelaskan kematian Gus Dur yang sebenarnya untuk mengklarifikasi isi SMS itu.


Hal ini diungkapkan asisten pribadi Gus Dur, Hakim, saat dihubungi wartawan, Minggu (3/1). "Saya tidak tahu persis detik terakhir wafatnya Gus Dur, karena tidak sedang dinas. Jadi kita hanya bisa menunggu tim dokter yang jelas apakah ada masalah atau tidak," ujar Hakim.


Menurut dia, beredarnya SMS tentang kematian Gus Dur yang tidak wajar itu sedikitnya bisa mempengaruhi suasana akhir-akhir ini. "Untuk itu, orang-orang yang menyebarkan isu itu harus dicari supaya benar atau tidaknya isi dalam SMS. Ada aparat yang berwenang, kita serahkan saja kepada pihak yang berwenang," katanya.


SMS dari nomor HP 08139***** yang beredar itu terbaca: "gus dur DIBUNUH!30/12 Pk 18.050 WIB Selang oksigen gus dur dicabut paksa! pembunuhan terkait pertemuan gusdur tgl 4 des di jl denpasar c3 membahas century dan adelin lies. TUNTUT POLISI USUT! (SEBARKAN).


Dengan diserahkan kepada pihak yang berwenang, sambungnya, maka masyarakat tidak berandai-andai soal berita wafatnya Gus Dur. "Kita punya aparat yang bertanggungjawab. Nanti mungkin aparat yang memberi kesaksian," pungkasnya.


Setahunlalu, Gus Dur minta kematiannya tidak dikontroversikan. Dalam sebuah acara Talk Show di salah satu radio swasta di Jakarta, Gus Dur menginginkan agar kematiannya nanti tidak dijadikan kontroversi.


"Sebelumnya Gus Dur berpesan di acara talk show radio 'Kongkow Bareng Gus Dur', ia menginginkan agar sepeninggalnya nanti tidak dijadikan kontorversi, namun kebaikan-kebaikannya saja yang diungkap," ujar mantan juru bicara Gus Dur, Adhie Masardi, Minggu (3/1).


Saat disinggung mengenai isi SMS yang menyebutkan adanya ketidakwajaran dalam kematian Gus Dur, Adhie tidak mempercayainya. Terlebih bila kematian Gus Dur dikaitkan dengan adanya kekhawatiran pihak tertentu bila Gus Dur campur tangan terhadap kasus Century.


Menurutnya, Gus Dur tidak pernah melakukan pertemuan yang negatif terkait kasus century, ia hanya mendukung dan menyemangati koleganya dalam mengusut kasus Century. " Beliau kalau bertemu dengan kita ya terus menyemangati dan mendukung untuk membongkar skandal Century," kata Masardi.

Rabu, 30 Desember 2009

Gus Dur Meninggal Dunia dalam Usia 68

Mantan Presiden KH Abdurahman Wahid atau Gus meninggal dunia, Rabu (30/12), di Rumah Sakit Cipto Mangungkusumo, Jakarta Pusat, dalam usia 68 tahun. Sebelumnya, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu dirawat di ruang VVIP nomor 116 Gedung A Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.

Seperti dilansir ANTARA, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang ke RSCM, Rabu petang, untuk menjenguk mantan Gus Dur yang dikabarkan telah kritis. Presiden Yudhoyono tiba di halaman RSCM sekitar pukul 18.30 menggunakan mobil kepresidenan dengan pengawalan tidak terlalu ketat.

Presiden Yudhoyono yang mengenakan kemeja batik berwarna coklat tampak masuk dari pintu utama RSCM langsung menuju kamar tempat Gus Dur dirawat. Tidak tampak Ibu Negara Ani Yudhoyono mendampingi Presiden.

Sekitar 10 menit setelah Presiden tiba, datang Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih yang tampak agak terburu-buru. Ia kemudian segera menyusul ke kamar tempat Gus Dur dirawat yang sedang dikunjungi Presiden.

Sebelum dirawat di RSCM Jakarta, Gus Dur sempat menjalani perawatan medis di RS Jombang Jawa Timur, pada Kamis (24/12), karena kelelahan setelah melakukan kunjungan ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur.

Sumber: Liputan6.


Gus Dur Wafat Pukul 18.40 WIB
Gus Dur meninggal setelah dirawat selama lima hari.




Innalillahi wainailaihi rojiun. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia. Gus Dur menghembuskan nafas terakhir pukul 18.40 WIB.

Meninggalnya Gus Dur dibenarkan sekretaris pribadinya, Sulaiman kepada VIVAnews, Rabu 30 Desember 2009.

Sulaiman menuturkan Gus Dur meninggal didampingi istrinya, Shinta Nuriyah dan anak bungsunya, Inayah. Saat itu Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono sedang menjenguk Gus Dur.

Pekan lalu saat sedang ziarah ke makam ayahnya, Jombang, Gus Dur sempat anfal. Ia dilarikan ke UGD rumah sakit setempat. Namun Sabtu 26 Desember, Gus Dur dilarikan ke RSCM.

Gus Dur sendiri tiba di RSCM siang tadi sekitar pukul 11.00 setelah sebelumnya menjalani perawatan di RSU Jombang, dan saat ini Gus Dur harus menjalani cuci darah dan mencabut giginya. Gus Dur semula diprediksi hanya diopname dua hari.

Sumber: VivaNews.

Gus Dur Wafat


Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur wafat. Saat ini jenazah Gus Dur masih berada di RSCM.

"Innnalilahi wa inna Ilaihi rojiun telah meninggal dunia Kyai Haji Abdurrahman Wahid di RSCM. Al Fatihah," kata Bambang Susanto dalam statusnya di Facebook, Rabu (30/12/2009). Bambang Susanto merupakan asisten pribadi Gus Dur.

Saat dikonfirmasi detikcom, Bambang memang membenarkan bahwa Gus Dur meninggal dunia. "Iya benar. Sudah dulu ya mbak," kata Bambang saat dikonfirmasi.

Sumber: Detik.

Rabu, 16 Desember 2009

Sultan Ikon Anak Muda di Pentas Politik Nasional

Dia terjun ke dunia politik dari titik nol. Tak heran jika popularitas tak kalah dengan kakaknya, H Agusrin Najamudin ST yang notabene adalah Gubernur Bengkulu.

Popularitas yang dicapai oleh anak muda yang telah masuk dalam ikon anak muda di pentas politik nasional juga bukan dibangun berdasarkan sikap populis. Tapi benar-benar dengan karya nyata.

Saya berangkat dari nol. Apa yang dicapai saat ini bukanlah dicapai dengan gampang. Dibutuhkan perjuangan keras, ungkap Bungsu.

Menurut Bungsu, apa yang dicapainya saat ini tak akan membuat dirinya berpuas diri. Apalagi saat ini masih banyak masyarakat yang belum berada di garis sejahtera.

Esensi dari tujuan perjuangan saya belumlah tercapai. Masih banyak saudara-saudara kita yang berada di garis kemiskinan. Apa yang saya perjuangkan saat ini belum berarti apa-apa. Belum bisa menghitung apa saja yang saya lakukan. Hal itulah yang menjadi tekad saya untuk berbuat demi kemaslhatan umat, ungkapnya.

Mengingat popularitas Sultan yang tak kalah dengan kakaknya, tak heran banyak pihak yang memintanya maju dalam Pilgub 2010. Ini jika sang kakak, Agusrin yang merupakan calon incumbent tak maju dalam Pilgub 2010.
Terkait hal itu, ketika dimintai komentarnya, dengan diplomatis, Bungsu mengatakan saat ini dia telah diamanahkan oleh masyarakat Provinsi Bengkulu untuk menjadi wakil di DPD RI.

40% suara masyarakat Provinsi Bengkulu diberikan kepada saya dalam Pemilu Legislatif lalu. Amanah ini tentunya harus saya pegang. Tapi berbeda jika masyarakat meminta saya untuk menjalankan amanah yang lain, ujarnya.

Dikatakan Bungsu, dia tak pernah berpikir untuk mengejar kekuasaan. Dia ingin sesuatunya berjalan seperti air mengalir. Banyak orang yang mengatakan bahwa saya memiliki bakat besar sebagai pemimpin atau tokoh nasional, tapi saya katakan saya ini adalah manusia biasa. Allah SWT lah yang menentukan jalan hidup. Tugas saya sebagai manusia adalah berusaha dan berdoa, ungkap anak muda yang dikenal juga religius ini.

Sumber: Bengkulu Ekspress.

Selasa, 15 Desember 2009

Julian ALDRIN Pasha, Benarkah?

Manakah yang betul dari nama berikut yang merupakan nama lengkap Juru Bicara Kepresidenan SBY yang baru?

A. Julian ADRIAN Pasha

B. Julian ALDRIN Pasha

C. Julian ALDRIAN Pasha

D. Julian ANDRIAN Pasha

E. Julian ANDRIN Pasha

Saya sudah berusaha menelusuri BIODATA beliau, mencari PROFIL beliau, tetapi agak sulit untuk diketemukan.

Yang saya ketahui hanyalah jabatan beliau sebagai wakil dekan Fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Indonesia.

Lantas, bagaimana nih saya harus manggil? Adrian, Aldrin, Andrian, Aldrian atau Andrin?

Minggu, 06 Desember 2009

Politik Patron di Pilkada Meredup

Politik patron atau hubungan keteladanan dalam pemilihan umum kepala daerah (pilkada) dipastikan akan meredup. Dalam soal menentukan pilihan, pemilih tidak lagi patuh terhadap tokoh atau ormas yang diteladani.

Alhasil, kandidat harus menggunakan program yang terstruktur dalam pemenangan pilkada. Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, menyampakan hal itu pada lokakarya 'Rahasia Sukses Pilkada', Rabu (2/12).

"Politik patron saat ini sudah meredup, sekarang sudah tidak ada jaminan bahwa pilihan pemilih akan sama dengan tokoh atau ormas tertentu," ujar Burhanuddin.

Sehingga, dia menilai, dukungan dari tokoh atau ormas pada salah satu kandidat tidak bisa diartikan kandidat itu mendapat dukungan pemilih. Meski, pemilih memiliki hubungan emosional dengan tokoh atau ormas itu.

Burhanuddin mencontohkan, dukungan dari seorang kiai di sebuah pesantren bukan berarti akan diikuti seluruh santrinya. Dia mengatakan, proses meredupnya politik patron ini sebenarnya sudah terlihat gejalanya sejak pilpres kemarin.

"Ratusan kiai di Jawa Timur menyatakan dukungan kepada Jusuf Kalla," kata dia. Namun, hasil pilpres menunjukkan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat mendapat suara dominan di Jawa Timur.

Burhanuddin menilai, kunci pemenangan pilkada kini terletak pada bagaimana seorang kandidat bisa menganalisis perilaku pemilih dan memetakan pemilih. Itu tentu harus dilakukan bersama tim kampanye yang solid.

"Pemahaman terhadap voting behaviour sangat menentukan kemanangan kandidat," kata dia.

Sedangkan, pemetaan pemilih penting untuk mengetahui kehendak rakyat, kemudian dituangkan dalam program kampanye. "Upaya mencari tahu kehendak rakyat itu bisa dilakukan dengan metode yang akurat dan terpercaya, yakni survei," ujar dia.

Burhanuddin menambahkan, hasil survei pun masukan amat penting untuk melihat secara riil kekuatan kelemahan kandidat. "Hasil survei juga membimbing kandidat dan tim sukses tentang apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan peluang terpilih dalam pilkada, sekaligus mengetahui kekuatan dan kelemahan kandidat lain," ujar dia. ikh/itz

Sumber: Republika.

Selasa, 01 Desember 2009

Julian Aldrin Pasha, Juru Bicara Kepresidenan

Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Julian Aldrin Pasha, diangkat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai juru bicara kepresidenan menggantikan Andi Mallarangeng.

Julian mengaku dirinya bersama beberapa staf khusus lainnya telah menandatangani fakta integritas, termasuk siap untuk dievaluasi kinerjanya oleh Presiden SBY.

Julian yang ditemui seusai acara pelantikan pengurus Kwartir Nasional Gerakan Pramuka di halaman Istana Merdeka, mengatakan ada tugas pokok dan fungsi yang menjadi tangunggungjawab. “Saya diangkat sebagai staf khusus untuk juru bicara dalam negeri. Tentu saya menangani hal-hal yang berkaitan langsung dengan dalam negeri,” kata Julian Aldrin Pasha.

Secara keseluruhan ada sepuluh staf khusus yang diangkat Presiden SBY. Dari sepuluh staf itu enam di antaranya adalah orang lama. Staf baru itu adalah Direktur Eksekutif International for Regional and Network (IRIAN) Velix Wanggai sebagai staf khusus bidang otonomi daerah.

Dosen Universitas Airlangga Daniel Sparingga sebagai staf khusus bidang komukasi politik, Jusuf Wangkar staf khusus bidang ketahanan dan energi dan mantan aktivis PRD dan komisaris PT Pos Indonesia Andi Arief yang diangkat sebagai staf khusus bantuan sosial dan bencana alam. Sedangkan Kol Ahmad Yani Basuki diangkat menjadi staf khusus informasi dan komunikasi.

Sumber: Pos Kota.